Skip to main content

Sejarah berdirinya ikemal

Di tanah yang dikenal sebagai Bumi Cenderawasih, jejak langkah masyarakat Maluku telah terukir sejak puluhan tahun silam. Mereka datang sebagai penginjil, perantau, pekerja, aparat, pendidik, pedagang, maupun pelayan masyarakat. Sebagian besar menetap, membangun keluarga, dan menanamkan akar kehidupan baru di Tanah Papua. Dari generasi ke generasi, masyarakat Maluku hidup berdampingan dengan berbagai suku dan etnis lainnya, berbaur dalam semangat kebersamaan yang menjadi ciri khas Papua.


Keberadaan masyarakat Maluku menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari denyut pembangunan daerah di seluruh tanah Papua. Hubungan kekeluargaan antarwarga Maluku telah terjalin erat melalui ikatan pela, gandong, maupun hubungan persaudaraan yang tumbuh secara alami. Namun, meskipun rasa kebersamaan itu begitu kuat, selama bertahun-tahun belum ada sebuah organisasi resmi yang menjadi rumah bersama bagi seluruh masyarakat Maluku di Tanah Papua.


Kesadaran akan pentingnya sebuah wadah pemersatu mulai tumbuh di kalangan para tokoh, sesepuh, dan pemuka masyarakat Maluku yang menetap di Papua Khusus di Kota Jayapura, sebagai ibu kota Provinsi Papua. Mereka memandang perkembangan zaman menuntut hadirnya sebuah organisasi yang tidak hanya mampu mempererat tali persaudaraan, tetapi juga menjaga nilai-nilai budaya, memperkuat identitas, serta menjadi sarana komunikasi dan koordinasi bagi warga Maluku yang tersebar di berbagai wilayah Papua.


Berbagai pertemuan, diskusi, dan musyawarah kemudian dilakukan. Dalam suasana penuh kekeluargaan, para tokoh Maluku menyatukan pandangan tentang masa depan generasi Maluku di Papua. Mereka meyakini kebersamaan harus dirawat dalam sebuah lembaga yang memiliki legitimasi dan dasar hukum yang jelas, sehingga mampu menjadi representasi resmi masyarakat Maluku di Tanah Papua.


Di tengah dinamika kehidupan sosial dan politik yang berkembang saat itu, semangat untuk membentuk organisasi semakin menguat. Politik dipahami sebagai bagian dari kehidupan bermasyarakat yang tidak dapat dipisahkan dari perjalanan sebuah organisasi. Momentum yang hadir kemudian menjadi pendorong lahirnya sebuah wadah besar yang mampu mengakomodasi aspirasi dan kepentingan masyarakat Maluku secara lebih terorganisir.


Momentum bersejarah itu akhirnya tiba pada 27 September 2025. Hari tersebut menjadi tonggak penting dalam sejarah masyarakat Maluku di Tanah Papua. Bertempat di Gedung GOR Cenderawasih, Kota Jayapura, Ikatan Keluarga Maluku (IKEMAL) di tanah Papua resmi berdiri dan melaksanakan pelantikan kepengurusan perdananya.

Suasana haru dan bangga menyelimuti seluruh hadirin yang datang dari berbagai latar belakang dan daerah di Papua. Hari itu bukan sekadar seremoni organisasi, melainkan penanda lahirnya sebuah rumah besar yang menaungi seluruh warga Maluku di Tanah Papua. Sebuah wadah yang dibangun di atas fondasi persaudaraan, kebersamaan, dan semangat untuk terus berkontribusi bagi tanah tempat mereka hidup dan berkarya.


Kepengurusan IKEMAL di Tanah Papua dilantik oleh gubernur kalah itu yakni Jacobus Perviddya Solossa (J.P. Solossa), tokoh besar Papua yang kehadirannya memberikan makna tersendiri bagi perjalanan organisasi ini. Pelantikan tersebut menjadi simbol pengakuan sekaligus harapan agar IKEMAL mampu menjadi mitra strategis dalam pembangunan daerah serta menjaga keharmonisan kehidupan sosial masyarakat yang majemuk di Tanah Papua.


Sejak saat itu, IKEMAL hadir bukan hanya sebagai organisasi kemasyarakatan, tetapi juga sebagai simbol persatuan masyarakat Maluku yang hidup jauh dari tanah leluhur mereka. Organisasi ini menjadi jembatan yang menghubungkan nilai-nilai budaya Maluku dengan realitas kehidupan masyarakat Papua yang penuh keberagaman.


Dalam setiap langkah dan pengabdiannya, IKEMAL mengusung moto yang diwarisi dari nilai-nilai luhur orang Maluku:


“Potong di kuku rasa di daging, ale rasa beta rasa.”


Moto ini mengandung makna mendalam tentang solidaritas dan empati. Ketika satu orang merasakan kesedihan, yang lain turut merasakan; ketika satu orang memperoleh kebahagiaan, kebahagiaan itu menjadi milik bersama. Nilai inilah yang menjadi roh organisasi, memperkuat rasa persaudaraan, serta menjadi pegangan dalam membangun kebersamaan di tengah kehidupan masyarakat Papua yang beragam.


Ketua-Ketua IKEMAL dari Masa ke Masa

Berikut nama - nama Ketua IKEMAL dari tahun 2005 - 2026.


1. DR. Ronald Engko, SE., M.Si (Periode 2005 - 2008) 


2. Dr. Drs Thobby Wakarmamu SE., M.Si. (Periode 2008 - 2010) 


3. Drs. Elia Loupatty. MM (periode 2010 - 2020) 


4. Christian Sohilait. ST., M.Si. (Periode 2021 - 2025) 


5. Christian Sohilait. ST., M.Si. (Periode 2026 - 2031) 



Makna Logo IKEMAL di Tanah Papua


Sebagai identitas organisasi, logo IKEMAL memuat berbagai simbol yang mencerminkan sejarah, budaya, dan filosofi masyarakat Maluku.


Tulisan “Ikatan Keluarga Maluku di Tanah Papua” 

Tulisan "Ikatan Keluarga Maluku di Tanah Papua" yang melingkar pada bagian luar logo menegaskan identitas organisasi sebagai rumah besar masyarakat Maluku yang hidup dan berkarya di Papua. 


Perahu Kora-Kora

Perahu Kora-Kora yang berada di bagian bawah melambangkan budaya bahari masyarakat Maluku. Perahu ini menjadi simbol perjalanan, semangat merantau, serta kebersamaan dalam mengarungi samudra kehidupan menuju tanah harapan yang baru, yakni Tanah Papua. 


Gunung dan Laut

Gunung dan Laut menggambarkan kekayaan alam Maluku sebagai negeri kepulauan yang dikelilingi lautan luas dan gugusan pegunungan. Simbol ini juga mencerminkan hubungan yang erat antara manusia dan alam dalam kehidupan masyarakat Maluku. Senjata Tradisional parang (pedang) dan salawaku (perisai) yang bersilang di bagian atas melambangkan keberanian, kehormatan, keteguhan, dan kemampuan menjaga martabat serta identitas budaya yang diwariskan oleh para leluhur.


Cengkeh dan pala 

Cengkeh dan pala yang melingkari bagian tengah logo melambangkan hasil hutan, kesuburan, pertumbuhan, dan persaudaraan yang terus berkembang. Sebagaimana tanaman yang tumbuh dan berakar kuat, demikian pula harapan agar persatuan masyarakat Maluku di Papua terus bertumbuh dari generasi ke generasi. 


Kini, IKEMAL berdiri sebagai simbol persaudaraan orang basudara di Tanah Papua. IKEMAL hadir untuk merawat warisan budaya, memperkuat ikatan kekeluargaan, dan mendorong partisipasi masyarakat Maluku dalam pembangunan daerah. Dengan semangat kebersamaan yang berlandaskan moto “Potong di kuku rasa di daging, ale rasa beta rasa,” IKEMAL terus melangkah, menjaga harmoni dalam keberagaman serta mengukuhkan pengabdian bagi Papua dan Indonesia.


Jejak Perjalanan IKEMAL di Tanah Papua

2005

  • Berdirinya Ikatan Keluarga Maluku (IKEMAL) Tanah Papua sebagai organisasi pemersatu warga Maluku yang berada di Papua.
  • IKEMAL dibentuk untuk mempererat tali persaudaraan, melestarikan budaya Maluku, dan mendukung pembangunan daerah.

2005-2010

  • Berdirinya Ikatan Keluarga Maluku (IKEMAL) Tanah Papua sebagai organisasi pemersatu warga Maluku yang berada di Papua.
  • IKEMAL dibentuk untuk mempererat tali persaudaraan, melestarikan budaya Maluku, dan mendukung pembangunan daerah.

2010-2020

  • Berdirinya Ikatan Keluarga Maluku (IKEMAL) Tanah Papua sebagai organisasi pemersatu warga Maluku yang berada di Papua.
  • IKEMAL dibentuk untuk mempererat tali persaudaraan, melestarikan budaya Maluku, dan mendukung pembangunan daerah.

2021-2025

  • Berdirinya Ikatan Keluarga Maluku (IKEMAL) Tanah Papua sebagai organisasi pemersatu warga Maluku yang berada di Papua.
  • IKEMAL dibentuk untuk mempererat tali persaudaraan, melestarikan budaya Maluku, dan mendukung pembangunan daerah.

2026

  • Pelaksanaan Musyawarah Pusat berikutnya.
  • Kepengurusan baru melanjutkan komitmen memperkuat persaudaraan Maluku-Papua serta pengembangan organisasi di masa depan.